Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 April 2011

SERUAN 2 MEI 2011!!!! FRONT AKSI MAHASISWA UNTUK HARI PENDIDIKAN NASIONAL

SERUAN AKSI !!

[Gabungan Berbagai Elemen Gerakan Mahasiswa]



Setiap tanggal 2 Mei diperingati oleh segenap rakyat Indonesia sebagai Hari Pendidikan Nasional. Aktivitas seremonial dilakukan oleh berbagai elemen, utamanya birokrat dan kalangan pendidikan. Hari tersebut menjadi sebuah perayaan simbolik atas pendidikan untuk rakyat Indonesia.

Akan tetapi, apakah realitas y...ang ada sudah sesuai dengan perayaan simbolik yang gemerlap tersebut?

Setiap 2 Mei, kita menghadapi paradoks banyaknya rakyat miskin yang tak mendapat akses pendidikan.

Setiap 2 Mei, kita menghadapi problem berupa kian mahalnya pendidikan tinggi, terutama di kampus-kampus besar, tak terkecuali UGM.

Setiap 2 Mei, kita menghadapi masalah komersialisasi kampus yang kian menjadi-jadi, di mana setiap fasilitas pendidikan kian mahal, tak terjangkau bahkan untuk mahasiswanya sendiri.

Setiap 2 Mei, kita menghadapi pendidikan yang tidak diarahkan untuk membebaskan rakyat dari kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan -mengutip Hassan Hanafi- tapi justru menciptakan intelektual menara gading yang sibuk dengan urusan akademiknya sendiri.

Setiap 2 Mei, kita menghadapi problem buruh yang terus dihisap tenaganya oleh kapitalisme, sementara pendidikan kita terus mereproduksi kesenjangan dan terus menciptakan teknokrat serta pengusaha yang menindas buruh.

Setiap 2 Mei pula, kita menghadapi pendidikan yang justru membungkam para intelektual untuk bersikap kritis, dengan berbagai bentuk pemboikotan terhadap organisasi gerakan berdalih pembinaan.

Akankah kita diamkan realitas tersebut di negeri ini?

Untuk menyikapi permasalahan kapitalisasi pendidikan yang kian akut di negeri ini,sejumlah elemen gerakan akan mengawal isu ini dengan menggelar aksi pada tanggal 2 Mei ini. Sebab itu, kami mengundang segenap mahasiswa Fakultas Geografi, yang masih peduli dengan nasib bangsa, yang masih pantas untuk hadir pada:

Aksi Hari Pendidikan Nasional
Hari dan Tanggal : Senin, 2 Mei 2011
Waktu : 07.00 s.d selesai
Tempat : Kumpul di Sagan GK V, kemudian bergerak ke tempat aksi
Isu yang diangkat :
1. Komersialisasi Pendidikan
2. Demokratisasi Kampus


MARI KIBARKAN BENDERA KITA, KAWAN-KAWAN!
Hidup Persatuan Perjuangan! Lawan Penindasan!
Gerakan Mahasiswa, Bersatulah!

"Mereka Dirampas Haknya, tergusur dan lapar, bunda relakan darah juang kami, 'tuk membebaskan rakyat" (Johnsony Tobing dan Andi Munajad, "Darah Juang")
"Barang siapa ingin menindas orang lain, berarti ia ingin menjadi tuhan. Padahal tiada Tuhan selain Allah" (Syair Syahadat Pembebasan)

Kamis, 14 April 2011

Wajah (Bopeng ) Mahasiswa Hari Ini*

Kita mahasiswa. Betulkah??

Apa yang salah ketika mahasiswa begitu mencintai dunia akademik? Rajin datang kuliah, mengerjakan tugas tepat waktu, menyiapkan diri untuk nilai-nilai yang bagus, dan begitu fokus pada pengembangan akademik-intelektualnya.
Sebenarnya memang,tidak ada yang salah dari semua itu. yang menjadi masalah adalah, mahasiswa seringkali lupa untuk mengamalkan ilmu-ilmu yang telah dipelajarinya. Atau lebih tepatnya, mahasiswa ‘khusyu’ menimba ilmu namun aplikasinya seringkali nol besar. Itu baru salah satu contoh kawan. Mari kita membahas secara lebih sistematis lagi.
Istimewanya Mahasiswa
Kalau mau kita cermati benar-benar, mahasiswa adalah sedikit dari prosentase penduduk Indonesia yang mampu mengecap dunia pendidikan sampai level atas. Ini adalah salah satu poin penting yang harus kita cermati. Lantas?? Dengan begitu, kita adalah sedikit dari kebanyakan orang yang seharusnya ‘tercerahkan’. Dalam artian, kita telah diberi kesempatan dalam akses pengembangan basis intelektualitas kita. Dan dengan demikian pula, (seharusnya) kita telah terbebani tanggung jawab yang lebih dalam kemajuan di Indonesia ke depannya nanti. Sayangnya, benarkah akses intelektualitas yang lebih benar-benat menciptakan intelektual yang kompeten? Ini juga menjadi masalah besar, ketika basis pengembangan intelektualitas tidak benar-benar teraplikasikan dengan baik. Atau bisa diartikan budaya instan seringkali menciptakan intelektual muda yang prematur. Tulisan ini tidak akan membahas lebih lanjut mengenai hal ini, karena yang menjadi titik tekan tulisan ini ada pada permasalahan identitas mahasiswa yang mulai luntur.
Dari poin utama di atas, kita bisa memahami mengapa kemudian kita seharusnya menjadi sosok yang lebih peduli (baca : kritis) dengan kondisi bangsa ini. ya, karena kita telah ditakdirkan untuk berilmu lebih. Dan orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan lebih memiliki tanggung jawab yang lebih pula. Regenerasi pemimpin adalah suatu keniscayaan. Yang tua tentu akan digantikan oleh yang muda. Sekarang, esok, atau masih lusa nanti. Tapi yang jelas itu adalah suatu kepastian. Yah, mahasiswa adalah sosok-sosok yang istimewa. Luar biasa istimewa. Mari kita cermati kenapa bisa demikian
Yang pertama adalah basis Intelektual profetik. (intelektual profetik-meminjam istilah dalam paradigma KAMMI). Mahasiswa seharusnya mendasarkan pola pikir, tindakan, dan ucapannya berdasarkan nilai-nilai keilmuan dan nalar yang tinggi. Artinya, semua perilakunya didasarkan pada pemahaman akan dunia akademisnya. Ilmu yang dipelajari dalam bangku kuliah tidak sekadar mandeg dalam urusan nilai dan pekerjaan, tapi juga dalam merumuskan ide-ide besar pembangunan bangsa ini. Pembangunan wacana berbagai permasalahan hidup seharusnya dikembalikan pada nalar yang sehat tanpa menciderai keimanan dan ketaqwaannya terhadap Tuhan YME.
Yang kedua adalah Agent of change. Mahasiswa dengan kesadaran akan kelebihannya mengenai ilmu, lantas menerapkan nilai-nilai kehidupan. Mahasiswa dan pemuda lantas menjadi garda depan perubahan. Perubahan dalam hal apa? Tentu perubahan menuju perbaikan bangsa. Karenanya sikap seorang mahasiwa sepatutnya dipertanyakan ketika bangsa ini memiliki banyak permasalahan.
Yang ketiga, Moral force. Kekuatan moral, idealisme menjadi salah satu poin keistimewaan mahasiswa. Luar biasa mahasiswa! Yah, idealisme seringkali menjadi harga mahal harta karung yang susah dicari dalam diri mahasiswa hari ini. apa pasal? Budaya instan, hedonisme, pragmatis, oportunis ternyata lebih mampu menarik hati mahasiswa dibandingkan idealisme yang membara. Padahal, idealisme seringkali menjadi benteng kokoh mahasiswa dalam menyuarakan permasalahan bangsa. Kekuatan moral yang mendorong mahasiswa untuk terus berbicara, bahwa hitam adalah hitam,dan putih adalah putih. Maka kemudian, terlahirlah parlemen jalanan.
Banyak kalangan yang menganggap parlemen jalanan adalah bentuk terburuk mahasiswa. Aksi-demo-anarkis. Padahal kalau mau kita cermati, justru disinilah titik tekan keistimewaan mahasiswa. Menggabungkan antara dunia akademis, kecerdasan moral, idealisme, dan semangat perubahannya.
Yang keempat, Iron stock. Sudah menjadi fitrah yang zaman akan terus berputar. Bisa dipastikan yang muda akan mengganti yang tua. Inilah posisi kita, kita yang suatu saat nanti menjadi pemimpin bangsa ini. karenanya, menjadi penting bagi seorang mahasiswa ia tidak hanya menguasai dunia keilmuan, tapi juga skill kepemimpinan. Menjadi pemimpin tentu bukan hal yang mudah. Yang menjadi masalah adalah ketika pemimpin yang lahir dari mahasiswa tidak memiliki nafas mahasiswa sama sekali. Dalam artian, lebih mengedepankan ego pribadi, dsb.
Yang Salah Yang Berubah
Gabungan dari 4 poin di atas adalah idealnya sosok mahasiswa. Tapi, mencermati lebih lanjut benarkan potensi-potensi di atas masih bisa dengan mudah kita jumpai dalam diri mahasiswa? Miris memang melihat kenyataan. Ketika basis pengembangan intelektual hanya omong kosong belaka. Dunia akademik yang menuntut akselarasi tingkat tinggi, ternyata menghasilkan pemimpin yang tidak becus menangani masalah pribadinya sendiri. Contoh konkrit, ketika kuliah ternyata sekadar mengejar nilai, tapi ternyata otaknya kosong melompong, tak paham ilmu tentu pula tak paham aplikasi. Ketika praktikum sekadar berorientasi pada (lagi-lagi) nilai, lalu menghalalkan budaya co-past walaupun sekadar dasar teori saja.
(Seharusnya) Pola Pikir Mahasiswa
Kembali ke pertanyaan di awal, salahkah ketika kita mengedepankan akademik kita dibanding hal-hal lain di dunia ini. tentu tidak ada yang salah kawan. Tapi akan menjadi salah ketika kita berhenti pada titik tersebut, titik dimana kita menjadikan dunia akademik adalah prioritas nomor satu. Secara alur, kita gambarkan dunia akademik sebagai pondasi. Tentu, ketika kita hendak membangun rumah, pondasi saja tidak bisa disebut rumah. seharusnya kita mulai berpikir luas kawan, apa yang bisa saya berikan untuk bangsa ini? hari ini, esok, di masa yang akan datang?? Kita mahasiswa coy, malulah kita ketika ternyata pola pikir kita tak jauh beda dengan anak SMA, SMP, bahkan SD, ketika orientasi menimba ilmu adalah nilai dan iming-iming dunia lain, seperti pekerjaan, penghasilan, dsb. Rubahlah pola pikirmu kawan.
Pola pikir mahasiswa seharusnya sudah lepas dari ‘apa yang saya dapatkan’ dan bergerak pada ‘apa yang bisa saya berikan’. Normatif mungkin, tapi dari pola pikir inilah akan tercipta perubahan-perubahan yang luar biasaaa. Kita seharusnya memahami bahwa ketika kita berpikir ‘apa yang bisa saya berikan’ apa yang kita pikir akan kita dapat adalah sebuah bonus.
Seorang mahasiswa seharusnya adalah sosok-sosok cerdas yang mampu bersuara membela rakyat. Perhitungannya matang dan berdasar ilmu pengetahuan. Idealisme yang membara menjadi pemicu semngat perjuangan.
Semoga saja, masih tersisa generasi mahasiswa yang tidak sekadar menjadi akademik sebagai satu-satunya tujuan menimba ilmu di kampus. Karena ilmu tak sekadar dinilai dari besaran IPK dan banyaknya nilai A dalam transkrip nilai. Lebih dari itu, ilmu adalah falsafah hidup yang seharusnya mampu mencetak kita, pola pikir, tindakan, ucapan, serta perilaku kita menjadi manusia Indonesia yang bermartabat. Dan sejatinya, ilmu yang bermanfaat tentu lebih baik dibanding ilmu yang mengendap di otak atau sekadar menghiasi buku catatan dan transkrip nilai. Dan yang lebih penting, semoga masih ada mahasiswa yang tidak lagi berpikir ‘apa ang didapat’ bukan ‘apa yang bisa saya berikan’. Dan semoga engkau yang membaca tulisan ini adalah generasi yang terbaik itu. Amiin. Wallahu’alam. [novi]

*)Judul dipinjam dari tulisan Soe Hok Gie, Wajah Bopeng Mahasiswa UI

Mahasiswa dan Permasalahannya

by : Aries Setiawan
Hidup mahasiswa Indonesia…. Hidup mahasiswa Indonesia…. Hidup mahasiswa Indonesia…. Pekikan semacam itu seringkali kita mendengarnya di berbagai surat kabar dan media elektronik dalam aksi demo yang dilakukan oleh para mahasiswa untuk membakar semangat rekan-rekan mahasiswa lainnya. Dengan perlahan tapi pasti, pekikan ini seringkali membuat semangat kita menjadi ikut terbakar. Memang secara biologis, mahasiswa yang notabene usianya masih muda memiliki power yang luar biasa untuk membuat orang-orang disekililingnya menjadi tergetar hatinya. Power yang luar biasa itu ternyata tidak semua mahasiswa memilikinya. Mahasiswa yang biasanya peka terhadap permasalahan Negara biasanya akan menyadari benar peran ia sebagai benteng moral, agent of change dan iron stock bagi negerinya.
Kiprah Mahasiswa sebagai agent of change tidak dapat dipisahkan dari perjalanan bangsa ini dalam menembus kelamnya jalan demokrasi. Sejarah mencatat, tahun 1998 di era sebelum jatunya rezim Soeharto, mahasiswa secara aktif melakukan ekspansi pemikiran dan aksi di lapangan untuk menuntut keadilan dan penghapusan azas tunggal yang telah bercokol selama puluhan tahun. Prestasi ini perlu diajungi jempol, tanpa mahasiswa mungkin perjalanan sejarah bangsa ini tidak akan terukir menjadi seperti sekarang. Saat itu, mahasiswa dengan segala idealismenya berani menerobos tembok kekuasaan absolut sehingga tembok itu hancur berkeping-keping, walaupun pengaruh tembok itu sampai detik ini masih agak kentara.
Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin besarnya tantangan global, mahasiswa yang selalu berpikiran jauh ke depan dan memikirkan bangsanya malah terjebak dalam pelbagai aliran pemikiran yang negatif. Sebut saja, aliran hedonisme, liberalisme, sekulerisme, dan indivisualisme telah merasuk ke alam bawah sadar mahasiswa sehingga model mahasiswa saat ini banyak yang hidupnya foya-foya, hanya memikirkan dirinya sendiri, dan tidak taat kepada agamanya. Bahkan, internet yang identik dengan jejaring sosial juga membuat mahasiswa menjadi acuh dengan urusannya sendiri. Mungkin anggapan sebahagian orang, kondisi seperti ini adalah kondisi yang wajar saja dan lumrah. Namun, mari coba kita analisis lebih mendalam lagi, apakah kondisi seperti ini jika dibiarkan dalam waktu yang lama tidak akan berbahaya?
Jika kita proyeksikan, dalam jangka waktu 20 - 30 tahun lagi negeri ini akan mengalami pergantian peran dari para generasi tua dengan generasi muda saat ini. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah apa urgensi pergantian itu? Kita lihat kondisi bangsa ini yang dipenuhi oleh praktik suap, mafia hukum, dan KKN. Seandainya mahasiswa yang kelak akan menggantikan generasi tua juga memiliki sifat-sifat yang sama seperti generasi pemimpin saat ini seperti korupsi, mafia, tentu kita akan mengerutkan dahi dan berkata “betapa malangnya nasib negeriku”. Oleh karena itu, aliran-aliran negatif yang saat ini tumbuh subur di lingkungan kampus perlu diberantas. Memang tidak mudah untuk mengubah keadaan mahasiswa yang apatis, hedonisme, dan berpikiran liberal karena sistem kampus juga kadang-kadang membuat mahasiswa menjadi seperti itu. Namun bukan berarti kondisi seperti itu tidak ada pemecahannya. Selalu ada solusi dalam setiap masalah, kata orang bijak. Solusi untuk mengatasi kondisi seperti itu antara lain: mengenalkan secara periodik pergerakan di lingkungan kampus, pembimbingan khusus bagi mahasiswa baru, adanya dosen konseling, dan lain-lain. Solusi-solusi yang ringan seperti itu biasanya akan mengikis sedikit demi sedikit aliran hedonisme, liberalisme, dan sekulerisme. Selain itu, pengadaan seminar dan training-training khusus juga dapat dijadikan menjadi paket solusi untuk mengatasi kondisi mahasiswa saat ini.[aries]

Senin, 11 April 2011

Mahasiswa Yang Terfragmentasi

Gerakan mahasiswa dari masa ke masa selalu menorehkan kata-kata dalam sejarah yang tidak sedikit. Bagaimanapun, mahasiswa memang selalu memberikan adil dalam berbagi momentum kebangkitan bangsa-bangsa. Tak terkecuali di negeri Indonesia sendiri. Akar sejarah pergerakan pemuda dan mahasiswa sudah dimulai dari zaman penjajahan Belanda. Banyak buku sejarah menyatakan bahwa Boedi Oetomo merupakan salah satu cikal bakal gerakan mahasiswa pertama yang mengusung isu nasionalsime dan berdiri besar, walaupaun banyak ahli sejarah masih memperdebatkan hal tersebut. Terlepas dari semua itu, hal demikian merupakan bukti eksistensi gerakan mahasiswa dan paradigmanya yang cenderung kritis dan berbasis intelektual.
Mencermati alur pergerakam mahasiswa, kita seakan merasa takjub dengan kekuatan mahasiswa. Bagaimana mahasiswa dengan kekuatannya mampu menjatuhkan rezim Soekarno pada tahun 1966. Lalu kita juga akan merasa takjub pula dengan aksi heroik mahasiswa yang turun ke jalan sepanjang tahun 1998 dan membuahkan hasil yang luarrr biasa pula, reformasi. Sebuah perubahan yang tidak main-main bagi sebuah bangsa yang labil macam Indonesia. Reformasi Indonesia bisa dikatakan tidak terlalu terlambat, dibandingkan dengan reformasi negara-negara timur tengah yang baru bergejolak belakangan ini. Luar biasa mahasiswa!
Namun kadang kita lupa untuk menelaah lebih lanjut, apa dan bagaimana gerakan mahasiswa mampu sedemikian hebatnya. Kita seringkali terjebak pada euforia kekaguman, kemudian merasa beruntung memiliki pendahulu yang demikian. Kita lantas lupa perjuangan-perjuangan untuk menciptakan momentum yang demikian bukanlah hal instan. Bargaining position yang demikian tidak lantas terjadi secara tiba-tiba. Ada fase-fase yang telah mendorong mahasiswa mampu bersikap tegas dan total.
Sebuah gejolak yang digawangi mahasiswa selalu diawali dengan permasalahan. Pernyataan ini tidak salah, namun jua tidak mutlak benar-benar terjadi. Di tahun 1966, kita mengetahui bersama bagaimana kondisi politik, sosial, ekonomi Indonesia telah mampu mendorong mahasiswa turun-turun aksi ke jalan. Aksi yang dimaknai sebagai ‘penyempurna kemerdekaan’. Aksi heroik ini kemudian tergantikan dan menghilang dengan sendirinya aura aura semangat dengan kebijakan NKK BKK yang ada. Tak bisa dipungkiri, mahasiswa diberangus kekritisannya, walau demikian di beberapa kampus kebijakan NKK BKK ini tidak sepenuhnya berlangsung. Kebijakan yang diambil adalah memecah suara-suara dan massa mahasiswa dari semual yang bersatu padu menjadi terfokus pada lokus-lokus kecil setara fakultas, jurusan, ataupun prodi. Lembaga mahasiswa seperti Dewan Mahasiswa dibekukan, sebagai gantinya dibentuk Badan Koordinasi Kemahasiswaan yang lucunya dikepalai oleh seorang dosen. Pada kenyataannya memang, hal demikian tidak berjalan. Di banyak kampus, BKK masih dipegang pula oleh mahasiswa. Ini menjadi salah satu bukti bahwa dosen, dekanat, dan rektorat pada masa tersebut masih sejalan dengan mahasiswa. Lalu bagaimana dengan sekarang??
Mahasiswa Yang Terkotak-Kotak
Fakta di lapangan membuktikan bahwa mahasiswa sekarang memiliki tingkat ketidakpedulian yang lebih tinggi dibanding masa-masa yang lampau. Jika pada masa NKK BKK ada suatu upaya untuk menekan mahasiswa dan hanya menyibukkan mahasiswa dengan kegiatan akademis, jika sekarang mahasiswa-mahasiswa justru telah ter’autis’kan dengan dunia akademik. Poros dari pemikiran mahasiswa tidak pernah jauh dari dunia akademik. Tidak salah. Tapi ini juga membuktikan bahwa NKK BKK model baru yang telah berhasil merubah paradigma mahasiswa yang kritis menjadi apatis.
Posisi yang seperti ini menjadi salah satu kelemahan dari gerakan-gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa seringkali telah menciderai visi besarnya, lupa, bahkan hanya menyibukkan dengan hal-hal yang remeh temeh. Maka terjawab sudah pertanyaan besar kita, kenapa bargaining position mahasiswa sekarang sangat lemah. Mahasiswa bukan tidak lagi tidak didengar suaranaya, tapi sudah diacuhkan sama sekali. Inilah permasalahan utama mahasiswa, terkotak-kotak dalam dunianya masing-masing. Seakan ada sekat yang nyata antara satu gerakan dengan gerakan lain, antara satu lembaga dengan lembaga lain. Lalu masing-masing bangga dengan identitas gerakan/lembaga tanpa kita melihat substansinya.
Sebuah malapetaka ketika mahasiswa saling menyerang satu sama lain. Padahal toh substansi yang diperjuangkan serngkali sama, hanya berbeda point of viewnya saja. Bisa jadi ini sebuah refleksi, pola pengkotak-kotakan dan adu domba ini sebenarnya sudah terjadi sejak zaman penjajahan kolonial Belanda. Pada kenyataannya bangsa Indonesia, lebh spesifik lagi mahasiswa dan pemudanya justru jatuh pula di lubang yang sama. Mengenaskan...
Eksistensi Identitas Lembaga
Kembali lagi ke permasalahan awal, bahwasanya kekuatan mahasiswa ‘ditakuti’ ketika mahasiswa dapat terhimpun dalam satu ‘barisan’. Karenanya, kebijakan pemecahan kekuatan mahasiswa dalam lokus-lokus kecil, menjadikan mahasiswa lemah, lemah dalam gerakan pemikiran, massa, jua kekritisannya. Setidaknya ada beberapa hal, yang menurut penulis telah menimbulkan fragmentasi mahasiswa dan gerakan mahasiswa.
Yang pertama adalah paham kelembagaan. Dalam sejarah pergerakan mahasiswa, kita mengenal adanya banyak gerakan mahasiswa yang berdiri membersamai sejarah pergolakan Indonesia. Sebut saja PMMI, PMII, HMI, GMNI, PMKRI, Gemsos, CGMI, dan sebagainya. Pada masa itu, aktivis gerakan menekankan dasar dari perbedaan dari gerakan mereka adalah asas dan ideologi yang berbeda. Memang tidak bisa dinisbahkan bahwa apa yang disebut prinsip tak mungkin dicampur baur. Namun permasalahannya, ketika mahasiswa berbenturan dengan permasalahan yang sama atau bisa kita sebut ‘musuh bersama’. Akan sangat luar biasa ketika mahasiswa dapat bersatu dalam satu frame yang sama dalam menghadapi ‘musuh bersama’ tersebut.
Namun yang terjadi seringkali melupakan substansi perjuangan dan tersibukkan dengan hal hal remeh seperti eksistensi lembaga atau gerakan yang dibawa. Kita tengok sejenak masa NKK BKK yang berusaha memecah paduan suara-suara mahasiswa ke dalam lokus-lokus yang lebih kecil dan dekat dengan dunia akademik, ke dalam perhimpunan fakultas, jurusan, dan prodi. Suara-suara yang kecil yang seharusnya bisa tersatukan dalam wadah perjuangan yang sama menjadi terpecah dengan mengedepankan eksistensi ‘nama lembaga’.
Pada era 1966, muncul Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia yang kemudian menjembatani perbedaan ideologi dan prinsp kelembagaan. Bisa jadi, kita sekarang membutuhkan hal yang sama, penyamaan gerak dalam menghadapi ‘musuh bersama’.
Permasalahan yang kedua adalah tidak adanya ‘musuh bersama’. Jika kita kembali merunut sejarah, ada pressure yang kemudian menimbulkan gejolak bagi mahasiswa dalam sejarah-sejarah pergerakan mahasiswa. Kenyataan di lapangan saat ini yang kita lihat, mahasiswa seakan enjoy dengan aktivitas kampus yang itu-itu saja, kuliah-kantin, praktikum, laporan. Orientasi mahasiswa sekarang adalah IP tinggi, lulus cepat, kerja enak. Pragmatis. Mahasiswa secara tidak sadar telah mengalami pergeseran paradigma dan penyempitan fungsi ke’mahasiswa’an. Kecenderungan pragmatisme mahasiswa yang juga cenderung apatis ini, mahasiswa seakan tidak memiliki ‘musuh bersama’. Dalam artian, mahasiswa seakan-akan merasa tidak ada permasalahan dengan bangsa ini maupun dengannya.
Inilah kemudian yang memecah mahasiswa ke dalam berbagai fragmen dengan pola pikirnya masing-masing. Ada yang berorientasi kesenangan hidup semata dengan budaya hedonismenya, mahasiswa yang study oriented; mengejar kelulusan cepat dan IPK tinggi namun seringkali melahirkan intelktual yang prematur, mahasiswa yang sok dengan aktivitas organisasinya; yang menduakan kuliah dan merasa menjadi kaum yang tersadarkan karena tidak terbelenggu arus pragmatis atau ada pula mahasiswa pragmatis kelas berat; hanya bergabung ketika menguntungkan bagi dirinya sendiri.
Inilah yang terjadi dalam tubuh mahasiswa sekarang. Pemberangusan ide-ide kritis secara tidak langsung. Praktis, pragmatis, dan instan. Lemah pula bargaining positionnya. Tidak baik memang berandai-andai, sebuah harapan lebih tepat, semoga kedepannya mahasiswa dapat menyatukan gerak, dengan keragaman ideologi dan gerakan/lembaga. Semoga bukan semakin merenggangkan nilai-nilai intelektualitas mahasiswa, namun justur memberikan kancah sumbangsih ide yang lebih besar demi Indonesia yang lebih baik. Marilah kita belajar untuk saling menerima perbedaan, laluu merumuskan ke dalam arah gerak yang sama. Toh, musuh kita sama, kebathilan, kejahatan, kebobrokan. Jika mahasiswa masih terfragmentasi, terkotak-kotak dengan sekat-sekat yang berbeda, maka tunggu saja hancurnya bangsa ini. Wallahu’alam. [novi]
 
Designed by: bang uud and aziz anak kos